PRABUMULIH||BPK Berita PemberantasKorupsi
Orang tua ANR, murid SD Negeri 24 Prabumulih yang mengalami cedera pada bagian kaki, akhirnya angkat bicara terkait kondisi anaknya.
Hingga kini, korban masih menjalani proses pemulihan setelah mengalami cedera yang sempat menjadi perhatian publik di media sosial.
Susiana, warga Jalan Bukit Barisan, didampingi suaminya, Arif Budiman, menyampaikan keterangan tersebut kepada wartawan seusai mengikuti mediasi antara pihak sekolah dan keluarga murid, Sabtu (7/11/2026).
Mediasi itu difasilitasi sejumlah pihak, yakni Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Prabumulih, Dinas Pendidikan Kota Prabumulih yang diwakili Kepala Bidang (Kabid) SD, Bhabinkamtibmas, serta Babinsa.
Dalam keterangannya, Susiana mengungkapkan bahwa pihak keluarga telah berupaya menghubungi pihak sekolah sejak awal kejadian.
Bahkan, pada 2 November 2026, dirinya menghubungi wali kelas untuk meminta surat keterangan sebagai persyaratan pengurusan pelayanan BPJS bagi anaknya.
Ia menjelaskan, peristiwa yang menyebabkan cedera pada kaki ANR diduga terjadi sebelum kegiatan pembelajaran daring pada Oktober lalu.
Saat pulang dari sekolah, anaknya sudah terlihat berjalan pincang. Namun, saat itu keluarga belum mengetahui secara pasti penyebab cedera tersebut.
Kondisi kaki ANR kemudian berangsur membengkak. Setelah sekitar satu minggu berada di rumah.
Khawatir dengan kondisi anaknya, keluarga akhirnya membawa ANR ke RSUD pada 2 November 2026 untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari dokter, cedera yang dialami ANR diduga akibat benturan, bukan semata-mata karena terjatuh seperti yang sebelumnya disampaikan anak kepada orang tuanya.
“Kami hanya meminta kejelasan dan pertanggungjawaban dari pihak sekolah.
Anak kami mengalami trauma, bahkan sekarang belum mau kembali bersekolah,” ungkap Susiana.
Ia menyebutkan, akibat cedera tersebut, ANR sempat mengalami kesulitan berjalan dan harus menjalani perawatan medis di rumah sakit selama kurang lebih lima hari.
Sementara itu, proses pemulihan telah berlangsung hampir satu bulan.
Meski demikian, pihak keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan secara utuh mengenai penyebab maupun kronologi kejadian yang mengakibatkan anaknya mengalami cedera.
Susiana juga menyayangkan respons pihak sekolah yang dinilai lambat dalam menanggapi laporan keluarga.
Ia mengaku telah menunggu kedatangan pihak sekolah sejak Senin hingga Kamis, tetapi belum mendapatkan respons sesuai harapan.
Menurutnya, pihak sekolah baru mendatangi keluarga pada Jumat, setelah persoalan tersebut mulai mendapat perhatian dari wartawan.
Selain itu, keluarga turut mempertanyakan mekanisme pengawasan kegiatan belajar mengajar selama wali kelas ANR menjalani cuti melahirkan.
Susiana mengaku tidak mengetahui secara jelas apakah terdapat guru pengganti maupun bagaimana mekanisme pengawasan terhadap para murid selama wali kelas tidak bertugas.
Dampak kejadian tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga kondisi psikologis ANR.
Susiana mengatakan, anaknya masih merasa takut dan belum bersedia kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Kalau ditanya sekarang, anak kami belum mau sekolah.
Dia masih takut dan trauma. Bahkan, ketika ditanya mengapa tidak mau berbicara dengan gurunya, dia menjawab takut,” tuturnya.
Dari sisi kesehatan, Susiana menyebutkan bahwa anaknya masih mengalami cedera pada bagian kaki.
Berdasarkan keterangan dokter yang diterima keluarga, terdapat pembengkakan, lebam, serta pembekuan darah.
Akibatnya, ANR hingga kini belum dapat berjalan secara normal dan masih mengalami pincang.
Terkait kelanjutan pendidikan anaknya, Susiana mengaku belum memutuskan apakah akan memindahkan ANR ke sekolah lain. Untuk sementara, keluarga memilih memprioritaskan pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis anaknya.
“Untuk sekarang kami belum tahu apakah akan pindah sekolah atau tidak. Kami lihat dulu kondisi anak sampai benar-benar sehat,” ujarnya.
Melalui proses mediasi tersebut, pihak keluarga berharap mendapatkan kejelasan atas kejadian yang dialami anaknya.
Mereka juga meminta pihak sekolah meningkatkan pengawasan serta memastikan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Jangan sampai ada anak lain yang mengalami hal serupa,” pungkasnya.(Team Pewarta)
